Beranda » Essai » Krisis Kepemimpinan Organisasi Mahasiswa, Antara Panggung Seremonial dan Kader yang ditelantarkan*

Krisis Kepemimpinan Organisasi Mahasiswa, Antara Panggung Seremonial dan Kader yang ditelantarkan*

Harian Madura

Oleh Syaif @zza

Seperti yang kita ketahui, organisasi merupakan sebuah wadah yang menjadi tempat berproses anggotanya sesuai bakat dan minat masing-masing, dalam Praktiknya, ada organisasi yang berfokus pada kepenulisan, ada yang berfokus pada pendidikan, ada juga yang berfokus pada isu-isu lokal, nasional hingga internasional dan masih banyak organisasi yang memiliki fokus masing-masing.

Pada opini kali ini, penulis lebih berfokus pada organisasi yang ruang lingkupnya adalah mahasiswa, dan lebih spesifik lagi terhadap pemimpin sebuah organisasi yang per hari ini sudah banyak kehilangan marwahnya karena kebodohannya sendiri. Dalam dinamika sebuah organisasi kemahasiswaan, sering kita temui pemimpin yang sering menonjol hanya pas acara Seremonial saja, ntah itu hari lahir organisasinya, diklat anggota baru, hingga seminar yang isinya hanyalah sensasional, namun ironisnya mereka malah menghilang ketika proses kerja organisasi, mulai dari program kerja hanya sekadar coretan hitam diatas kertas putih, komunikasi yang terputus dengan dalih saya orangnya minus dalam pergaulan, hingga banyak kader yang ditelantarkan.

Sering kali pertanyaan sederhana yang tak pernah menemukan titik penyelesaian selalu terlontar dari para anggota, jika tidak mampu mengurus organisasi, mengapa dulu pas pencalonan kandidat berdiri begitu gagah mencalonkan diri?.

Organisasi kemahasiswaan sejatinya adalah ruang berproses yang utuh, yang didalamnya tidak hanya sekadar diajari tentang publik speaking, namun bagaimana kemudian diajari juga tentang amanah yang tentunya kelak akan diminta pertanggungjawaban. Sebagaimana yang termaktub dalam al-qur’an “Setiap diri kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban”, lantas apakah mereka sadar dengan hal tersebut? Apakah mereka sadar amanah yang mereka pegang adalah harapan baru bagi anggotanya? Saya rasa mereka belum berfikir jauh terhadap hal tersebut.

Seorang pemimpin tentu tidak harus sempurna, tidak harus sama dengan pemimpin sebelumnya, tidak harus sama dengan seperti apa kata mereka, namun minimal seorang pemimpin harus mampu merawat kader-kadernya yang tidak pernah rela dibiarkan telantar begitu saja, sosok pemimpin yang mempunyai kinerja minimal seperti itu, saya rasa itu sedikit bisa menutupi kekurangannya, baik dari segi kurangnya intelektual, tidak mampu berbicara didepan umum maupun tidak terlalu maksimal dalam menjalankan program kerjanya, karena sejatinya pemimpin dengan cara pengkaderan yang cukup bagus, tentu para anggota akan merasa betah berproses dalam sebuah organisasi, jika keinginan mereka untuk berproses tidak ditemukan di organisasi tersebut, setidaknya mereka menemukan keluarga baru untuk bertukar pandangan dengan sesama anggota yang lain, dimana kemungkin anggota lain mampu untuk saling melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada. Jika sosok pemimpin sudah bodoh dalam hal intelektual, tidak bisa publik speaking dan bobrok dalam hal kaderisasi, lantas apa yang bisa diharapkan, maka saya rasa sekalipun organisanya sudah berdiri berabad-abad, jika pemimpinnya tetap seperti itu, tentu tunggulah organisasi tersebut terbenam bersama kenangannya.

Sejarah telah memberikan banyak pelajaran bagaimana kepemimpinan yang lemah itu mampu menghancurkan sesuatu yang telah dibangun begitu lama, salah satunya adalah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang berdiri dalam kurun 2 hingga 3 abad tersebut, tidak hancur dalam semalam, namun hancur secara perlahan disebabkan salah satunya oleh krisis pemimpin yang kurang berwibawa, konflik internal, dan hilangnya tanggung jawab terhadap sistem yang ada. Kacaan tersebut menjadi alarm pengingat bagi kita bahwa sekuat apapun sebuah organisasi, ketika dipimpin oleh sosok yang tidak siap dan tidak serius, kehancuran hanyalah soal waktu.

Begitupun dengan hal yang dalam skala kecil kita analogikan sebagai sebuah organisasi, ketika pemimpin hanya hadir dalam acara seremonial, sementara kerja konkrit seluruhnya diserahkan kepada pengurus lain, akhirnya akan muncul ketimpangan, kelelahan kolektif, dan finishnya adalah penurunan kualitas organisasi, lebih parah lagi budaya tersebut bisa diwariskan secara turun temurun dari satu peiode terhadap periode-periode berikutnya, sehingga menciptakan siklus kepemimpinan yang miskin tanggung jawab namun kaya akan pencitraan.

Oleh karena itu, organisasi perlu melahirkan seorang pemimpin yang tidak hanya berani maju, namun siap untuk bertahan, berani tampil dan berani untuk memberikan dampak yang positif demi kebaikan bersama. Karena pada akhirnya organisasi bukan tempat untuk dikenal, namun bagaimana kemudian output dari kepemimpinannya mampu dirasakan oleh berbagai elemen civitas akademika.

Penutup, tulisan ini tidak bertujusn untuk menyindir siapapun yang sedang menjadi pemimpin sebuah organisasi, namun jika tersindir dan mau untuk berbenah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, maka saya rasa tulisan ini cukup bermanfaat untuk dibaca. Karena sejatinya pemimpin bukanlah seberapa sering nama itu disebut, namun seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siapapun karena dampak positif dari kepemimpinannya. Pemimpin yang hanya muncul pas seremonial mungkin hanya dikenang pas dokumentasi, namun pemimpin yang benar-benar bekerja, akan hidup dalam ingatan kolektif anggotanya, karena disitulah lahir kepemimpinan yang bukan hanya terlihat hebat, tapi benar-benar bermakna.

Seperti yang kita ketahui, organisasi merupakan sebuah wadah yang menjadi tempat berproses anggotanya sesuai bakat dan minat masing-masing, dalam Praktiknya, ada organisasi yang berfokus pada kepenulisan, ada yang berfokus pada pendidikan, ada juga yang berfokus pada isu-isu lokal, nasional hingga internasional dan masih banyak organisasi yang memiliki fokus masing-masing.

Pada opini kali ini, penulis lebih berfokus pada organisasi yang ruang lingkupnya adalah mahasiswa, dan lebih spesifik lagi terhadap pemimpin sebuah organisasi yang per hari ini sudah banyak kehilangan marwahnya karena kebodohannya sendiri. Dalam dinamika sebuah organisasi kemahasiswaan, sering kita temui pemimpin yang sering menonjol hanya pas acara Seremonial saja, ntah itu hari lahir organisasinya, diklat anggota baru, hingga seminar yang isinya hanyalah sensasional, namun ironisnya mereka malah menghilang ketika proses kerja organisasi, mulai dari program kerja hanya sekadar coretan hitam diatas kertas putih, komunikasi yang terputus dengan dalih saya orangnya minus dalam pergaulan, hingga banyak kader yang ditelantarkan.

Sering kali pertanyaan sederhana yang tak pernah menemukan titik penyelesaian selalu terlontar dari para anggota, jika tidak mampu mengurus organisasi, mengapa dulu pas pencalonan kandidat berdiri begitu gagah mencalonkan diri?.

Organisasi kemahasiswaan sejatinya adalah ruang berproses yang utuh, yang didalamnya tidak hanya sekadar diajari tentang publik speaking, namun bagaimana kemudian diajari juga tentang amanah yang tentunya kelak akan diminta pertanggungjawaban. Sebagaimana yang termaktub dalam al-qur’an “Setiap diri kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban”, lantas apakah mereka sadar dengan hal tersebut? Apakah mereka sadar amanah yang mereka pegang adalah harapan baru bagi anggotanya? Saya rasa mereka belum berfikir jauh terhadap hal tersebut.

Seorang pemimpin tentu tidak harus sempurna, tidak harus sama dengan pemimpin sebelumnya, tidak harus sama dengan seperti apa kata mereka, namun minimal seorang pemimpin harus mampu merawat kader-kadernya yang tidak pernah rela dibiarkan telantar begitu saja, sosok pemimpin yang mempunyai kinerja minimal seperti itu, saya rasa itu sedikit bisa menutupi kekurangannya, baik dari segi kurangnya intelektual, tidak mampu berbicara didepan umum maupun tidak terlalu maksimal dalam menjalankan program kerjanya, karena sejatinya pemimpin dengan cara pengkaderan yang cukup bagus, tentu para anggota akan merasa betah berproses dalam sebuah organisasi, jika keinginan mereka untuk berproses tidak ditemukan di organisasi tersebut, setidaknya mereka menemukan keluarga baru untuk bertukar pandangan dengan sesama anggota yang lain, dimana kemungkin anggota lain mampu untuk saling melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada. Jika sosok pemimpin sudah bodoh dalam hal intelektual, tidak bisa publik speaking dan bobrok dalam hal kaderisasi, lantas apa yang bisa diharapkan, maka saya rasa sekalipun organisanya sudah berdiri berabad-abad, jika pemimpinnya tetap seperti itu, tentu tunggulah organisasi tersebut terbenam bersama kenangannya.

Sejarah telah memberikan banyak pelajaran bagaimana kepemimpinan yang lemah itu mampu menghancurkan sesuatu yang telah dibangun begitu lama, salah satunya adalah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang berdiri dalam kurun 2 hingga 3 abad tersebut, tidak hancur dalam semalam, namun hancur secara perlahan disebabkan salah satunya oleh krisis pemimpin yang kurang berwibawa, konflik internal, dan hilangnya tanggung jawab terhadap sistem yang ada. Kacaan tersebut menjadi alarm pengingat bagi kita bahwa sekuat apapun sebuah organisasi, ketika dipimpin oleh sosok yang tidak siap dan tidak serius, kehancuran hanyalah soal waktu.

Begitupun dengan hal yang dalam skala kecil kita analogikan sebagai sebuah organisasi, ketika pemimpin hanya hadir dalam acara seremonial, sementara kerja konkrit seluruhnya diserahkan kepada pengurus lain, akhirnya akan muncul ketimpangan, kelelahan kolektif, dan finishnya adalah penurunan kualitas organisasi, lebih parah lagi budaya tersebut bisa diwariskan secara turun temurun dari satu peiode terhadap periode-periode berikutnya, sehingga menciptakan siklus kepemimpinan yang miskin tanggung jawab namun kaya akan pencitraan.

Oleh karena itu, organisasi perlu melahirkan seorang pemimpin yang tidak hanya berani maju, namun siap untuk bertahan, berani tampil dan berani untuk memberikan dampak yang positif demi kebaikan bersama. Karena pada akhirnya organisasi bukan tempat untuk dikenal, namun bagaimana kemudian output dari kepemimpinannya mampu dirasakan oleh berbagai elemen civitas akademika.

Penutup, tulisan ini tidak bertujusn untuk menyindir siapapun yang sedang menjadi pemimpin sebuah organisasi, namun jika tersindir dan mau untuk berbenah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, maka saya rasa tulisan ini cukup bermanfaat untuk dibaca. Karena sejatinya pemimpin bukanlah seberapa sering nama itu disebut, namun seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siapapun karena dampak positif dari kepemimpinannya. Pemimpin yang hanya muncul pas seremonial mungkin hanya dikenang pas dokumentasi, namun pemimpin yang benar-benar bekerja, akan hidup dalam ingatan kolektif anggotanya, karena disitulah lahir kepemimpinan yang bukan hanya terlihat hebat, tapi benar-benar bermakna.

Tag;

Recent News

Terlewati

Pendidikan

[copyright_text][/copyright_text]
Scroll to Top